download

http://www.ziddu.com/download/13924647/NewMicrosoftWordDocument.doc.html http://www.ziddu.com/download/13924647/NewMicrosoftWordDocument.doc.html

Kamis, 24 Maret 2011

EMULATOR VISUAL BOY ADVANCE

UNTUK MEMAINKAN GAME GBA HARUS ADA FILE INI INI FILE UNTUK MEMAINKAN GAME GBA              KLIKSINI BAGI YANG BERUNTUNG DAPAT 10 JT

GAME GBA ( HARVEST MOON)

HARVEST MOON INI GAME TERBESAR DI AMERIKA


             Game gba bagi yang download klikdisini

Kamis, 24 Februari 2011

Astronomers 'Time Travel' to 16th Century Supernova

On November 11, 1572 Danish astronomer Tycho Brahe and other skywatchers observed what they thought was a new star. A bright object appeared in the constellation Cassiopeia, outshining even Venus, and it stayed there for several months until it faded from view. What Brahe actually saw was a supernova, a rare event where the violent death of a star sends out an extremely bright outburst of light and energy. The remains of this event can still be seen today as Tycho’s supernova remnant. Recently, a group of astronomers used the Subaru Telescope to attempt a type of time travel by observing the same light that Brahe saw back in the 16th century. They looked at 'light echoes' from the event in an effort to learn more about the ancient supernova.

A ‘light echo’ is light from the original supernova event that bounces off dust particles in surrounding interstellar clouds and reaches Earth many years after the direct light passes by; in this case, 436 years ago. This same team used similar methods to uncover the origin of supernova remnant Cassiopeia A in 2007. Lead project astronomer at Subaru, Dr. Tomonori Usuda, said “using light echoes in supernova remnants is time-traveling in a way, in that it allows us to go back hundreds of years to observe the first light from a supernova event. We got to relive a significant historical moment and see it as famed astronomer Tycho Brahe did hundreds of years ago. More importantly, we get to see how a supernova in our own galaxy behaves from its origin.”

Sabtu, 05 Februari 2011

penemu satelit titan

Satelit Titan merupakan satu dari tiga puluh satu satelit yang mengorbit Planet Saturnus. Satelit ini pertama kali ditemukan oleh Christiaan Huygens, seorang astronom Belanda pada tahun 1655. Titan merupakan salah satu satelit favorit untuk diteliti lebih jauh disamping Satelit Europa yang mengorbit Planet Yupiter dimana satelit itu diketahui memiliki lautan air di bawah lapisan permukaan esnya.

Menjadi tambah menarik minat para ilmuan atau astronom untuk menelitinya karena layaknya planet Bumi, Titan ini juga mempunyai atmosfer. Dan merupakan satu-satunya satelit alam (bukan satelit buatan manusia) di Tata Surya yang memiliki awan setebal 300 km.

Titan yang merupakan satelit terbesar diantara 31 satelit dari Saturnus, ini setengahnya tersusun dari es dan setengah lagi dari material bebatuan. Tekanan atmosfernya 1,6 kali tekanan atmosfir Bumi, sehingga kalau diperbandingkan, tekanannya sama seperti tekanan di lantai dasar kolam renang. Komposisi atmosfernya sendiri sama seperti Bumi, yakni didominasi oleh nitrogen, namun sebagian besar tersusun dari etana dan metana seperti senyawa kimia yang terdapat dalam kabut asap.

Lapisan atmosfer tersebut sangat tebal sehingga hujannya sampai-sampai berupa cairan mirip gasolin. Oksigennya sendiri membeku dalam wujud es air (water ice) di permukaannya. Komposisi kimia tersebutlah yang sangat menarik perhatian peneliti sebab ada kemungkinan komposisi kimia tersebut tersusun dari beberapa senyawa seperti yang berada di atmosfer Bumi primordial. Dan bahkan kandungan organik pada senyawa kimia yang ditemukan mengindikasikan, bahwa tidak tertutup kemungkinan di satelit Titan ini akan muncul bentuk kehidupan seperti di Bumi.

Memang, suhu permukaan satelit ini (saat ini) sangat rendah yakni minus 178 derajat Celsius, berarti hanya 4 derajat di atas titik jenuh metana. Hal tersebut disebabkan jaraknya yang begitu jauh dari Matahari. Dengan suhu serendah itu, memang sangat tidak mendukung adanya kehidupan. Namun pandangan lain mengatakan, bahwa meskipun dengan suhu serendah itu, bentuk kehidupan tetap saja berpeluang muncul di dalam danau hidrokarbon yang hangat akibat pemanasan internal yakni pemanasan yang di karenakan tekanan gravitasinya yang sangat besar sehingga pusat satelit ini masih panas. Seperti Bumi dengan inti planetnya yang sangat panas, satelit Titan ini juga memiliki pemanasan yang sama.

Satelit yang berukuran satu setengah kali ukuran Bulan, ini membutuhkan waktu untuk mengorbit Saturnus selama 16 hari. Dan kecepatan rotasinya (mengitari porosnya) membutuhkan waktu 16 hari juga. Dengan begitu sehingga apabila kita melihat Titan dari Planet Saturnus maka yang terlihat hanya setengah bagian saja, sama seperti melihat Bulan dari Bumi. Namun kecepatan gerak Titan enam kali lebih cepat dibanding gerak Bulan.

Titan yang bermassa seperseratus ribu massa Bumi dan berjarak 1,2 juta km dari Planet Saturnus, atau tiga kali jarak Bulan ke Bumi, ini setengahnya tersusun dari es dan setengahnya lagi dari material bebatuan. Lapisan bebatuan berada di pusat satelit hingga radius 1.700 km. Di atas bebatuan terdapat lapisan kristal es hingga permukaan satelit yang beradius 2.575 km.

Satelit Titan lebih besar dari Planet Merkurius dan merupakan satelit kedua terbesar dari seluruh satelit yang ada di Tata Surya, setelah Ganymede- satelit dari Yupiter. Diameter Titan lebih kecil 112 km dibanding diameter Ganymede.

Menarik untuk mengetahui bagaimanakah wajah Bumi di awal kelahirannya, serta mengetahui jawaban atas pertanyaan tentang asal mula munculnya kehidupan di planet biru ini. Maka penemuan dan penelitian satelit ini cukup membantunya. Walaupun nantinya diketahui bahwa satelit Titan terbukti tidak memiliki bentuk kehidupan sebagaimana yang diperkirakan, namun pemahaman mengenai interaksi kimia di sana diharapkan akan sangat membantu manusia memahami awal adanya kehidupan manusia sendiri.

Berbagai penelitian telah dilakukan untuk engungkap rahasia dibalik Titan ini. Wahana antariksa Voyager 1, pada tahun 1980 telah menginformasikan kondisi atmosfer satelit Titan yang diduga mirip dengan keadaan Bumi dulu sewaktu muda, dimana ketika mengorbit di ketinggian 4.000 km di atas Titan, diketahui betapa aktifnya atmosfer satelit tersebut. Teleskop Ruang Angkasa Rubble pada tahun 1994 juga telah merekam gambar Titan, yang memperlihatkan "benua", hal mana disimpulkan dari penampakannya yang terang. Walaupun Rubble masih belum bisa membuktikan adanya "lautan" air di sana.

Demikian juga misi Cassini-Ruygens yang akan berkunjung ke sana diharapkan memberikan pandangan baru atas satelit tersebut. Selama belasan kali mengorbit Titan, Cassini akan memetakan Titan dan mengumpulkan data atmosfernya, dan di saat yang sama, Ruygens akan diterjunkan menembus atmosfer dan menganalisa unsur-unsurnya.

Wahana antariksa yang diperkirakan awal Juli 2004 berada diorbit Saturnus, ini membawa instrumen untuk menginformasikan karakteristik Titan. Diharapkan, informasi yang dikumpulkan kedua wahana itu dapat memberi pemahaman penting mengenai Bumi. Dengan penemuan dan hasil penelitian satelit ini nantinya, maka mengadakan eksperimen rumit di laboratorium untuk mengetahui kondisi Bumi pada usia dininya tidak diperlukan lagi. Dan pertanyaan ‘Bagaimana planet terbentuk’ dan ‘Dari mana manusia berasal’ bisa terjawab.

penemu 4 bulan jupiter

Ganymede adalah satelit alam dari planet Jupiter dan satelit alami terbesar dalam Tata Surya. Mengitari planetnya kira-kira dalam tujuh hari, ia merupakan satelit ketujuh dan satelit Galilean ketiga dari Jupiter.

Ganymede turut serta dalam resonansi orbit 1:2:4 masing-masing dengan satelit Europa dan Io. Ia lebih besar diameternya daripada planet Merkurius namun massanya hanya sekitar setengahnya

Ganymede sebagian besar terdiri dari batu silikat dan es air. Ia merupakan benda langit yang berdiferensiasi sepenuhnya dengan inti yang cair, kaya akan besi. Samudra air asin dipercaya ada pada hampir 200 km di bawah permukaan Ganymede, diapit lapisan-lapisan es.

Permukaannya terdiri dari dua macam bentuk medan permukaan. Daerah gelap, yang jenuh akan kawah tubrukan yang berasal dari hingga empat milyar tahun yang lalu, menutupi sepertiga permukaan satelit itu. Daerah yang lebih terang, dilewati oleh alur-alur dan punggung bukit yang besar dan hanya sedikit lebih tua, menutupi sisanya. Penyebab kacaunya geologi medan permukaan terang itu tidak sepenuhnya diketahui, namun mungkin karena aktivitas teknonik yang ditimbulkan oleh pemanasan pasang-surut.

Ganymede adalah satu-satunya satelit dalam Tata Surya yang diketahui memiliki magnetosfer, yang mungkin timbul karena konveksi dalam inti besi cairnya.Magnetosfer yang kecil itu terkubur oleh medan magnet Jupiter yang jauh lebih besar dan terhubung dengannya lewat garis medan terbuka. Satelit itu mempunyai atmosfir oksigen tipis yang termasuk O, O2, dan mungkin O3 (ozon).

Hidrogen atomik adalah penyusun atmosfer yang sedikit. Apakah satelit itu mempunyai ionosfer yang berkaitan dengan atmosfernya masih belum diketahui.Penemuan Ganymene ditujukan kepada Galileo Galilei, yang mengamatinya pada tahun 1610.

Nama satelit itu segera diusulkan oleh astronom Simon Marius, dari Ganymede yang mitologis, pembawa cangkir Dewa-dewi Yunani dan kesayangan Zeus.Dimulai dengan Pioneer 10, wahana angkasa telah mampu memeriksa Ganymede dari dekat.Wahana Voyager memperbaiki pengukuran terhadapnya, sedangkan wahana Galileo menemukan samudera bawah tanah dan medan magnetnya. Misi baru ke bulan-bulan es Jupiter, Europa Jupiter System Mission (EJSM) diusulkan untuk diluncurkan pada tahun 2020.

penemu plant baru sedna

Penemuan Planet ke-10 Sedna
Bumi & Antariksa :: 14 Juli 2007
Penemuan planet baru ini oleh para astronot planet tersebut diberi nama Sedna. sedna adalah planet yang ke-10 ditata surya ini. sedna berotasi lebih pelan dari pada yang diperkirakan oleh para ilmuan sehingga para ilmuan berpendapat bahwa planet ini mempunyai sebuah satelit.
Menurut ilmuan dari California Institute of Technology planet ini berdiameter tidak lebih dari 1700 kilo meter sedna pertamakali terlihat tanggal 14 November 2003, saat para astronom melakukan pengamatan langit menggunakan teleskop Samuel Oschin 48 inci, milik Observatorium Mount Palomar, California. Astronom-astronom dari Institut Teknologi California, Observatorium Yale, dan Observatorium Gemini, terlibat dalam penemuan tersebut.
Dari hasil penelitian-penelitian para ilmuan pada terakhir ini telah ditemukan beberapa planet, terutama setelah munculnya teleskop-teleskop yang serba cangih saat ini sehingga para ilmuan lebih mudah mencari dan menemukan planet-planet yang baru antaralain :
Varuna, ditemukan tahun 2000, berdiamater sekitar 900 kilometer, Quaoar, misalnya, ditemukan tahun 2002, adalah objek dengan diameter sekitar 1.200 kilometer, sedangkan Ixion, ditemukan tahun 2001, lebarnya 1.065 kilometer. dan sampai saat ini juga planet pluto masih beranggapan bahwa pluto bukanlah sebuah planet melainkan sebuah objek yang bentuknya lebih besar. mereka yang berangapan bahwa pluto adalah tidak sebuah planet tidak menutup kemungkinan sedna pun tidak akan diakui sebagai sebuah planet. dan sedangkan mereka yang beranggapan bahwa planet pluto adalah sebuah planet tidak menutup kemungkinan sedna juga akan disebut dengan planet ke-10 di tatasurya ini apa lagi bila hal yang selama ini telah terbukti bahwa dia memiliki sebuah bulan.